Sampah Pemikiran: Zona Nyaman

Zona nyaman adalah? sebuah zona buaian, kasarnya, situasi di mana hidup terasa begitu-begitu saja. Pernahkah kau mengalaminya ? Ah, pada akhirnya, aku bertemu pada situasi ini. Zona nyamanku ada di kota rantauku ini.

Sebelum menapaki jejak perantauan ini, seorang kawan pernah berucap "kalau tidak bisa sukses di satu daerah, hijrahlah, kalau belum sukses juga, hijrah lagi" begitu seterusnya. Sukses menurut kawanku di sini, menjadi pribadi yang lebih baik.

Kata-kata kawan memang seringkali menjadi petuah bagi diri kita yang terkadang goyah. 

Ada sesuatu yang pada saat ini kurasakan bahwa benar, aku tidak banyak merasakan banyak perubahan (dalam arti lebih baik) di kota ini. Konyol sekali, kupikir di kampus yang kuekspektasikan akan menjadikanku lebih berkembang ternyata menjadikanku tidak jauh berbeda. Hidup memang tidak bisa dijalani dengan hanya menunggu--menunggu keajaiban.

Banyak orang mencomel "lho, buat apa keluar dari zona nyaman kalau sudah nyaman?" Kalau zona nyamanmu membantumu menjadi pribadi yang lebih baik versimu, silakan bertahan, kalau tidak, keluarlah..

Alam bawah sadar kita menuntut kita untuk tetap nyaman menjadi diri sendiri, tetapi zona nyaman tentu saja membuat kita tidak ke mana-mana, kan? Rasanya seperti terbelenggu.

Vokalis FourTwnty juga sering berbusa-busa mengingatkan "bergeraklah dari zona nyaman, keluarlah dari zona nyaman" dalam tembang 'zona nyaman'nya.


Bukankah kita diberi kebebasan untuk bertebaran di muka bumi?
Kenapa harus menunggu hari libur dan tanggal merah untuk menyapa atau berjumpa dengan orang tua?
Kenapa mengerjakan tugas harus menunggu mood?
Kenapa kita terbiasa menunggu momen?
Kenapa kita harus menunggu?
Kenapa kita hanya menunggu?
Kenapa kita menunggu?
dan kenapa? kenapa? kenapa? lainnya.

Kuakui, terkadang, aku perlu berjalan keluar, semisal ke pasar, setidaknya, itu membuatku tidak selalu berkutat menjadi manusia kamar.

Akan tetapi, syukur Alhamdulillah, karena tanah rantau memberi kesempatan padaku untuk mampu menulis paragraf-paragraf ini, dan tentu saja, terimakasih tanah rantau, kau membantuku menyadari sesuatu yang selama ini menjadi titik buta bagiku, kau mengingatkanku tentang mau dijadikan apa mimpi-mimpiku.

Ya, sudah waktunya, beranjak dari zona nyaman..

Nasuha Dinata,
Bdg, 8 Jan 2018
Salam Aksarable!





Post a Comment

0 Comments