Nostalgia Rasa #2




"Mas, Gramedia Bintaro di mana ya ?" lantas saja tertulis di layar ponsel setelah beberapa detik lalu aku terkejut dengan getar kuatnya. Kinan, gadis berkacamata-kulit putih-agak chubby-berdarah Jawa mengirim pesan singkat. Aku tersenyum, mengetahui si pengirim pesan adalah orang yang beberapa bulan ini kuledek di setiap update-an sosial medianya.

"Di Bintaro Plaza Mbak" balasku sigap.

"Bintaro Plaza itu di mana ya?" tanyanya lagi.

Hah? Masak iya dia tidak tahu tempat populer itu? Bukankah dia sudah lama tinggal di Tangerang? batinku.

"Masak nggak tempe?" 

"Hah? Nggak masak tempe?" Aku terkekeh, Kinan pasti kebingungan.

"Hahaha"
"Maksudnya, masak nggak tahu?" 

"Hahaha"
"Kamu ih.. Kocak.."
"Iya, aku kan di tangerang juga kemana-mana kalau diajak aja.. Hehe" Selalu menyenangkan membuat orang lain tertawa, terlebih orang yang kita sukai.

"Haha, Dasar.."
"Memangnya mau cari apa ke Gramed Bintaro? pacar baru?" Aku menggodanya yang belum lama ini mendapati kekasihnya berselingkuh dengan wanita lain. Bagaimana aku tahu? Tentu saja, ia sendiri yang memintaku menjadi wadah kegalauannya.

"Hahaha"
"Bukan ih.."
"Aku mau cari buku referensi TA" yang Kinan maksud adalah buku referensi untuk mendukung penyusunan Tugas Akhirnya.

"Yaudah, aku temenin aja gimana?" Aku menawarkan diri.

"Hah?"
"Jangan Mas, ngerepotin nanti.. Kan kamu lagi nyusun TA" ia mengira mungkin aku tidak ada waktu.

"Kan kamu juga lagi nyusun TA" kataku yang mencoba menyadarkannya bahwa kami ada pada semester dan kampus yang sama.
"Sekalian aku juga mau lihat-lihat" kucoba meluruskan persepsinya.

"Oh, Mas mau nyari buku TA juga?"
"Engga, mau lihat-lihat Mbak-Mbak-nya aja.. Wkwkwk" balasku.

"Genit ih.."
"Tapi.."
"Takut ngerepotin kamu :("

"Yaudah sih, woles aja kayak sendal" kedua kalinya, kucoba meluruskan persepsinya.

"Hahaha, woles" Kinan menyadari bahwa kata woles adalah kata yang populer saat itu, sekaligus teringat akan sandal jepit yang pernah kupinjamkan padanya kala aku dan Irul bertandang ke indekosnya untuk sekadar kunjungan. Sebuah sandal dengan merek Woles.

"Mas beneran mau nemenin?" tanyanya, masih ragu.

"Iya, dua rius deh" Dua rius, pergeseran dari kata serius yang berarti lebih dari serius.

"akunya nggak enak :("
"ngerepotin.. :("

"Yaudah, enakin aja.. Hehe"
"Kan sekalian Mbak :)" 
"Woles aja woles" Aku mencoba meyakinkannya kembali.

"Hahaha.. okay" katanya, bersepakat denganku.

Entah, apa ekspresi Kinan saat itu. Semoga ia senang, sebagaimana aku juga demikian.

Kemudian kami mendiskusikan waktu pertemuan itu, dan diakhiri ucapan terimakasih yang berulang kali darinya.

***

"Biasanya baca tulisan siapa?" tanyaku sembari melangkah meninggalkan parkiran Mal.

"Aku suka tulisan Fiersa Besari" mata Kinan berbinar, sedang dahiku berkernyit.

Eh, Fir? Fir apa tadi kamu bilang? Aku tidak tahu sosok penulis yang ia maksud.


"Siapa tuh?"

"Musisi sekaligus Blogger, tulisannya baguuus" ia merapatkan bibirnya, lalu menariknya menjadi simpulan senyum.

"Kok aku tahunya Raditya Dika aja ya?"

"Hahaha" Kinan hanya tertawa. Entah karena aku kurang membaca, atau karena ia melihat wajahku polos, melongo

***

"Bagaimana tulisanmu?" kukirim pesan singkat di bulan ketiga setelah kami bersepakat 'saling melengkapi' satu sama lain.

"Ya, bisa dibilang sudah 75%" Kinan membalas.

"Wow, keren, sudah hampir beres ya ?"

"Iya, alhamdulillah, tapi masih bingung.."

"Bingung dalam artian?"

"Iya, aku bingung bagian ending-nya.."

"Oh.. Hehe"
"Memang ceritanya mau dibuat sedih atau tidak bahagia?"

"Hahaha"
"Bahagia dooong"
"mudah-mudahan.."

"Kok, mudah-mudahan?"

"Karena, aku belum tahu bakal berakhir bagaimana.."

Maksudmu? Aku menangkap kesan ambigu dalam kalimat terakhir Kinan.


"Yaudah, semoga tulisanmu bisa segera selesai dan aku bisa segera membacanya secara gratis serta dalam keadaan riang gembira.." balasku.

"Hahaha"
"Aamiin"

"Bayar dooong" paksanya.

"Tuker, sop buah gimana?" Aku menawarkan jajanan favoritnya.

"Hahaha"
"Yaudah, boleh" Kinanpun luluh.

"Nah gitu dong.." Aku tertawa tanpa sepengetahuannya. Tawa bahagia tentunya.

"Mas" Kinan memulai pembicaraan lain.

"Ya?"

"Kangen sama dongeng Orang Tua Super dan Bocah Ajaib.." Ia memberiku kode-kodenya yang terbiasa kuterjemahkan.

Ah, kau sedang manja rupanya. Tebakku.

"Okay deer, wait a year.." Aku memintanya menunggu, siapapun paham, tidaklah mudah membuat cerita bersambung yang diketik via keypad di ponsel Java.

"Hahaha"
"Kok, deer sih? LOL!"

"Hehe, kenapa ?" tanyaku, penasaran dengan balasan Kinan.

"Deer kan artinya rusa ih!"

"Oh, gitu ya? Hahaha" Aku baru menyadari bahwa yang kutulis adalah deer bukan dear (yang tersayang).

"Sengaja ya?" ia mencari kebenaran.

"Kalau iya, kira-kira kamu bakal marah nggak?"

"Nggak dong :P"

"Kenapa nggak marah?"

"Karena sayang.. :P"

"Cieee ada yang sayang, ihiy! piwit! piwit!" 'piwit' adalah sebuah pergeseran kata dari sebuah siulan menggoda(meledek).

"Cieee cieee -_-" " Sudah kuduga, Kinan jengkel.

"Kok, wait a year? setahun dong?" Aku memelesetkan wait a minute menjadi wait a year, maksudku (silakan menunggu-minimal setahun). Aku tak peduli penulisan kosakatanya, karena aku memang tidak pandai berbahasa inggris, yang kupedulikan saat itu adalah Kinan jadi tertawa karenanya.
"Hahaha" bisa kubayangkan dengan jelas bagaimana rona wajahnya di sana.

"Iya, kalau aku ketiduran pas lagi bikin cerita kan kamu ngga kecewa karena masih ada waktu setahun.. Hihihi" kataku, mengklarifikasi.

"Hahaha"
"Bisa aja ih.. Gemesh!"

Kemudian ia setuju menunggu, sedang aku setuju menunaikan kewajiban mendongeng malam itu.

Kuketik babak baru tentang dongeng Orang Tua Super dan Bocah Ajaib sesuai pesanan si gadis berkacamata. Entah, akupun tak habis pikir, kenapa terkadang kita melakukan hal-hal konyol demi kebahagiaan kita bersama pasangan. Ajaib sekaligus anehnya, kita bahagia melakukannya.

Boleh jadi atas sebab ada rasa percaya dalam diri bahwa orang yang kita beri rasa tidak akan pernah meninggalkan kita, kecuali untuk satu hal yang semestinya sanggup memaksanya meninggalkan kita, satu hal yang bernama: kematian.

Menyayangi adalah cara terbaik untuk melengkapi, dimulai dari hal-hal kecil. Hal membahagiakan tidak melulu tercipta atas pemberian yang istimewa, bahkan pemberian sederhana semacam memancing gelak tawa adalah momen yang kadangkala tiada tandingannya.

Yang tampak sederhana, seringkali terasa istimewa. Pikirku.

Kinan pamit tidur. Sedang aku berusaha memancing kantuk dengan bermain Twitter. Masih tidak menyangka dengan susulan rasa syukur bahwa aku masih mampu membuat orang lain terhibur walau hanya dengan tulisan.

Satu hal yang kupahami bersama larutnya malam itu, menyayangi adalah sebuah rasa ingin melengkapi, sebuah renjana melengkapi ketidaksempurnaan masing-masing.

Seperti halnya kertas kosong yang butuh tulisan-tulisan baik, ternyata, hati juga membutuhkan cara-cara yang baik untuk sebuah perjalanan yang baik.

Di dalam rangkaian nostalgia rasa,
hari-hari kita adalah melengkapi,
dengan rasa dan cara yang sederhana

***

"Kamu kemana seharian ini sayang?" tanyaku kali kesekian yang sejak pagi dihinggapi rasa khawatir sebab Kinan tidak menjawab telpon dan pesanku.

Menjelang senja, ponsel berbunyi. Aku bersicepat melompat, meraih ponsel dari tempat tidur.

"Kepalaku kumat lagi Mas.." sebuah balasan dari Kinan, membuatku menahan napas, aku semakin cemas.



Post a Comment

0 Comments