Resignation

"Bang, kau jadi membandung?" sebuah notifikasi pesan Whatsapp muncul di layar laptopku. Pesan dari Winda. Menyadarkanku bahwa waktu jam makan siang sudah memasuki wilayah Jakarta dan sekitarnya. 

"Insyaa Allah jadi bung, kenapa? takut kehilangan? :D" kataku mencandainya.

"Ha ha ha, yang kayak abang mah banyak bang!"
"Gpp, basa basi aja kok! :P"

"Iya, aku mah pasaran wkwkwk"
"Tumben ngeWA, apa kabar Win?"

"Galau bang :("

"Ha ha ha, masih galau? kayak anak ABG aja sih"
"Silakan ceritakan yang bisa anda diceritakan :D"
"dalam hitungan satu, dua, tiga, dan ketika kamu melihat tisu terbakar, maka kamu akan tertidur.. =D =D"

"ha ha ha geje ih abang"
"baaang"
"si anu ngajak ketemu bang :("

"He he he, bagus dong ?"

"Tapi bang :("

"Tapi apa?"

"Aku trauma bang"
"ngga mau yang sebelumnya terjadi lagi huhu :'("

"Jadi, kamu menyimpan dendam?"

":'( :'("
"ngeliat dia sama cewek lain :("
"Masih ngga nyangkaaaa"
"dia setega itu ke aku :("
"nyakitin!"

"Hehehe.. iya iya, udah udah.."
"Kan kamu udah cerita sama abang kok soal itu.. udah hampir 1203x malah :D"
"Jadi, pas terakhir kamu cerita, sampe sekarang belum ketemu juga? :O"

"ngga sanggup bang :("
"masih sakit bang hati aku, sakiiiit :'( :'( :'("

"Hmm.."
"dia ngga ngejelasin apa2 gitu ke kamu?"

"belum, aku minta dia buat jelasin di chat aja :("
"tapi chatnya jarang aku read"
"dia maunya ketemu"
"dia maksa ketemu bang :("

"kan bisa via telpon?"

"ngga aku angkat bang setiap dia telpon :("

"yeuh, anak muda kelakuannya :/"
"barangkali memang perlu ketemu Win, biar jelas semuanya, biar plong"

"aku ngga mau ketemu abaaaaaang, ga mauuuuu! :("
"ga sangguuup!"
"ga sudiiiii!"
":'(("

"terus kamu mau begini terus, dia pengen ketemu kamu, tapi kamunya mau kabur-kaburan aja?!"
"mau sampai kapan Win? :)"

"cepat atau lambat bang.."

"Ha ha ha.. justru semakin lambat, semakin galau kamu"
"inget loh, ini udah bulan ke empat kamu curhat ke abang"
"jadi, mau begini terus?"

"segerakan Win. SEGERAKAN"
"hehehe"


Aku sesekali menatap tampilan menu berwarna hijau. Sebuah foto profil dan animasi Winda is typing. Ada jeda balasan yang agak lama dari biasanya. 

"Huaaaa"
"ga mauu baaang! :(" sepertinya hati Winda tetap sama.

Obrolan di whatsapp kami terhenti. Saat tetiba seseorang berjalan mendekat kepadaku. Status pesan  dari Winda, centang dua.

"Ram.." senior menarik kursi di sebelahku sembari menyodorkan bungkusan makan siang.

"Oh, apa ini Mas?"

"Buka aja, Ram.. hehe"

Sesuai instruksi, aku membuka apa yang harus kubuka.

"Wih, mantap.. nasi padaaang! Haha" seruku setelah meng-unboxing kertas nasi.
"Mas, yang beli?" lanjutku penasaran.

Seniorku menggeleng. "Mba Irina"

"Owh.." aku mengangguk satu kali.
"subhanallah.. luar biasa ya Mas.. rajin sedekah dia, jadi malu saya.. hehehe" decakku, kagum.

"Iya, hampir tiap hari lho dia ngasih makanan ke orang-orang kantor, tapi sayang, dia masih single Ram.." Mas Dirga menyuap nasi, ada kalimatnya yang terhenti.
"udah Ram, lo sama dia aja, ngga apa-apa kali beda setahun dua tahun doang.." ujarnya seolah ada inspirasi datang dari kunyahan pertamanya. Aku melongo.

"Iya Ram, udahlah ngga usah ke Bandung, gausah resign, di sini aja, nikah aja sama dia.." Pak Roy, kepala marketing kantor, tetiba berada di depan pintu ruangan mencampuri obrolan kami.

"Bener tuh Bos.. " Mas Dirga antusias.

"Apa perlu, gue sama Dirga yang ngejodohin lo?" Pak Roy mengangkat kedua alisnya dengan senyum lebar. Mas Dirga setengah tertawa.
"Ah, gimana ya pak, Mas, saya masih terlalu muda untuk menikah.." kataku.
"Sama yang seumuran aja bisa ditinggal nikah Mas, apalagi sama yang lebih tua?" pungkasku kemudian tertawa.

Mas Dirga tertawa

"Eh, Ram.." ucap Mas Dirga dengan posisi pandangan tak berubah.

"Ya, Mas?" aku menoleh, mengonfirmasi.

"Tugas kamu kira-kira beres kapan Ram?"

"Oh, Insyaa Allah kalau ngga ada tambahan tugas lagi, minggu depan beres mas.. Alhamdulillah udah sekitar 80%.. tinggal desain brosur sama kaos aja sih Mas.."

"Hmmm.. Oke.. Jadi, gini, tadi pak bos bilang pas meeting, kamu boleh resign kalau semua tugas dan tanggung jawab kamu buat event ini udah kelar.." tegasnya.

"Oh.. Siap Mas! sebenernya, soal planning kita sebelumnya, saya juga ngga mau ninggalin PR buat karyawan yang akan gantiin saya nanti.." deg, tetiba aku menyadari sesuatu akan ucapanku sendiri.

"Oh, kalau itu biar aku yang handle" suara Mas Dirga menjadi samar. Menghilang di pendengaran. Fokusku kembali pada jendela Whatsapp di layar laptop. Tak ada waktu lagi untuk mengobrol bersama Mas Dirga. Sepertinya itu sudah cukup. Aku harus melanjutkan apa yang kuhentikan. Obrolan bersama Winda.

"abaaang :("
"aku harus gimana?" tetiba pesan lainnya tampak di layar.

"Sorry baru bales"

"Bentar Win"
"Aku mau tanya"
"Kalau ngga salah kamu mau resign juga kan bulan ini?"

"Hmmmm.."
"Iya bang, kan bareng sama abang"

"tugas-tugasmu di kantor sudah beres?"

"Udah kok bang"
"Ini malah di kantor magabut, udah ga ada kerjaan :/"
"Beteee, makanya chat abang"
"Tapi gpp sih magabut jugaaa"
"Kata bosku mah bonus buat aku hihhihi :D :D :D"
"Buat karyawati paling rajin sedunia =D =D "
"Dan tercantik di kantornya"
"Hihihihi"

"Abang ngga peduli"

"Dih, abang maaah! jahaaat mulutnya! :("
"Huaaaa :'("

"Yang abang peduli"
"Soal resign"

"Kenapa? :O"

"Jangan ninggalin kantor dengan PR atau tugas apapun buat orang yang bakal gantiin atau nerusin kerjaan kamu"

"Iya bang, itu mah pasti"
"ga enak juga sama kantor"
"terutama sama pengganti aku"

"Sama halnya dengan hubungan dan perasaan"

"Kok?"
"Maksudnya bang? :O"

"Jangan meninggalkan hubungan kamu dengan sisa urusan yang seharusnya bisa kamu selesaikan"

":O"

"Kenapa kamu masih uring-uringan?"
"Kenapa dia masih nyariin kamu?"
"Kenapa selama empat bulan belakangan kamu masih belum move on juga?"

":("

"Karena kalian belum menyelesaikan apapun"
"Urusan kalian belum selesai, belum ada kesepakatan antara kalian untuk memperbaiki keadaan"
"Dia nyariin kamu untuk menjelaskan semuanya"
"Sementara kamu menghindar untuk berkilah, mencoba move on dari dia, tapi nyatanya semua menjadi bumerang pesakitan bagi diri kamu sendiri"


":'("


"Sudah waktunya, sudah semestinya, dan sudah sepantasnya Win :)"
"Selesaikan apa yang telah kamu dan dia mulai"
"Jangan meninggalkan keganjilan apapun pada diri kalian masing-masing"
"Kalau semua kembali baik-baik saja, kalian akan bisa memutuskan"
"Kembali sama-sama atau kelak, membersamai orang yang kalian pilih"

":'("
"Huhuhu"
"Tapi bang? :'("

"Tapinya ditunda dulu Win =D"

"Kadang kita harus tegas sama perasaan sendiri"
"Sama diri sendiri"
"Jangan memulai pertemuan kemudian pergi begitu saja, itu menyakitkan"
"Jangan meninggalkan apa yang sebenarnya bisa kamu dan dia selesaikan"

":("

"Kamu dan dia, berhak bahagia Win :)"
"Hidup ini bukan sekadar tentang patah hati. Coba lihat dari sisi lain, sisi baiknya"
"Abang kira, abang ga perlu mengulang kata-kata abang tadi"
"Pikirkan ya.."
"Abang tunggu kabar baiknya ;)"

Winda is typing. Tak ada balasan.

Winda is typing, lagi. Masih tak ada balasan.

Kualihkan pandanganku ke jam dinding. Waktu makan siangku hampir selesai. Aku harus memanfaatkan itu dengan sebaik-baiknya. Aku harus menyelesaikan apa yang telah kumulai. Aku membatin, jangan pernah meninggalkan apapun yang kujumpai dengan baik-baik dengan cara yang tak baik. Itu tak sebanding.

Perasaan tak biasa tetiba mengalir. Imaji membawaku pada situasi tatkala ruang kerjaku ketika aku sudah tak berada di sana. Senyum Mbak Ayu, sang tukang masak nomor satu di kantor. Wajah serius Mas Dirga. Dan tawa renyah Pak Roy. Semuanya tergambar jelas di kepalaku.


Aku diam. Semoga saja yang mereka kenang dariku adalah kebaikan.
Setelah ini, aku bersiap memulai lembaran baru. Di sebuah kota yang terlalu dingin untuk dinikmati sendirian, Bandung.

Teruntuk Winda, kutunggu kabar bahagianya. ;)

Nasuha Dinata
Bdg, 17 Nov 16
Resignation










Post a Comment

0 Comments