#11.5 Seorang Baru

Hai sayang..
bagaimana harimu? Indah? kudoakan semoga begitu.

Mungkin ini jadi kali pertama, tulisan-tulisan ini hadir di hadapanmu. Aku sengaja menulis ini, karena aku tau kau suka sekali membaca. Kebetulan, ini adalah kisah yang kutulis sendiri. Ya, seandainya saja kau suka, pasti aku senang sekali. Tapi, maafkan kalau masih jauh dari kata ‘bagus’, yang pasti aku tetap senang, dan terima apapun penilaianmu nanti. Jika kau ingin berkomentar, kirimi saja aku email, atau cukup sapa aku lewat social media. Siapa yang tahu, karenanya, kita jadi banyak waktu untuk berbagi, berbagi cerita, berbagi ilmu, lebih-lebih berbagi rezeki. Aamiin.

Biarlah, kuberi judul TA. Ya! Kau mungkin sudah tau akronimnya, tapi apa kau yakin? bisa saja tebakanmu salah kan? Hehe, maka izinkan saja aku, terus menulis semauku, dan tak masalah bila belum tau, kau akan segera menemukannya di sini. Tak lama lagi. Sudah, percayalah. Jika kau bertanya kenapa judulnya sesingkat itu? Anggap saja, aku sedang malas mencari judul lain. Hehehe. Dan TA, masih soal kampus.

Temanya? Tentu saja masih tentang cinta. Karena kukira, di belahan dunia manapun, sadar ataupun tidak, kita hidup sangat lekat dengan sesuatu yang disebut ‘cinta’. ‘Cinta’ yang dengan maknanya bagi masing-masing manusia. Dan, setiap orang pernah mengalami jatuh-bangun cinta. Di dalamnya, ada sesuatu yang mereka perjuangkan. Memang, ini bukan kisah tentang perjuangan para pahlawan, sebab semua orang punya andil yang bermacam-macam dalam berjuang, berjuang sesuai porsinya, berjuang sesuai masanya, atau berjuang dalam cintanya. Maka inilah, kisah tentang memperjuangkan. Aku harap kau tak pernah bosan membahas suatu hal yang beraroma sekaligus berirama cinta. Hehe. Bukan apa-apa, hanya saja, nyatanya karena cinta, aku bisa menuliskan kisah ini, dan karena cinta pula, aku diberi kesempatan untuk bisa menyapamu. Dan masih tentang TA, tak jauh dari cinta.

Seandainya kau tanya kapan aku mulai menulis ini? Kujawab jujur, aku lupa kapan tepatnya. Biar kucoba ingat-ingat lagi. Kalau sudah ingat. Kukatakan kepadamu jika kita bertemu nanti.

Jadi, ya sudahlah, sebelum kau bosan, bagaimana kalau kita mulai saja kisahnya? Sepertinya kau setuju. Oke, nikmatilah sayang..
***

Dan suatu sore di sebuah pusat keramaian kota, di kawasan Bintaro Sektor 3, Tangerang Selatan. Itu adalah sore yang lumayan cerah, karena di barat sana, matahari sepertinya hendak pergi turun tenggelam, tapi cuacanya juga sangat pas untuk sekadar jalan-jalan santai ke taman, apalagi bersama kekasih hati, ah, tentu pasti terasa lebih menyenangkan. Atau tidak jadi masalah bila segera pulang ke rumah, terutama bagi mereka yang sejak pagi duduk sibuk di kursi kantornya. Dan kau bisa menyaksikan itu dari trotoar, bagaimana ramainya jalan yang mulai padat oleh kendaraan yang berlalu-lalang dengan para pengendaranya yang sudah rapih mengenakan perlengkapan safety riding, setelah beberapa waktu belakangan, mereka segera berlalu dari halaman parkir kantor, atau dari suara klakson yang bergantian bersahutan dari para pemotor yang kesal dengan supir angkutan umum yang mendadak-menurunkan penumpang di tepi jalan, dan juga tukang jajanan malam yang telah keluar dari peraduannya untuk sesegera mungkin menjemput rezeki.

Sesekali bila kau berkunjung ke Pondok Ranji di jam pulang kerja. Kau akan mudah bersahabat dengan asap knalpot, disusul hawa panas dan hiruk pikuk ratusan kepala manusia yang memadati sekitar stasiun. Kau akan menjadi bagian setia dari kemacetan. Tentu saja, karena di sana ada sebuah palang pintu lintasan kereta.

Tak jauh dari situ, ada sebuah perempatan, dengan lampu lalu lintas yang masih bekerja normal. Jika kau datang dari arah stasiun tadi, kau akan menemukan bangunan tua di sebelah kiri, sebuah apartemen yang dibiarkan mati, pembangunannya yang tak terselesaikan. Entah sudah berapa tahun usianya. Entah apa pula maksudnya, mungkin itu ciri khas ataupun penanda dari kawasan yang sedang tumbuh elit itu. Yah, aku tidak cukup tau.

Beratus meter dari pintu masuk sebuah Mal, masih di daerah itu, sudah berdiri sejak tadi di sebuah sisi halaman parkir, seorang pemuda tengah mengeluarkan ponsel dari kantung kanan celana kerjanya. Lengan kemeja hitam panjangnya dilipat tak beraturan sampai ke siku. Dan sepatu kulit cokelat pekat lusuh khas karyawan yang sudah setahun lebih pergi-pulang turun naik kendaraan umum. Tas ransel yang tampak kembung-mengembang sedang asyik menggantung di punggungnya. Keringat bercucuran di pelipis si pemuda, bagaimana tidak, pemuda itu memang sedang menghadap tegap ke matahari, mencari sudut terbaik dan warna terindah dari layar ponselnya, ia sibuk mengabadikan momen terbaik yang diberikan Sang Pencipta melalui keajaiban alam bernama senja, sekaligus menikmati rasa hangatnya. Ya, pemuda itu memang menyukai langit bagaimanapun warnanya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi di dalam hatinya dia sedang mensyukuri apa yang Sang Pencipta berikan di hari itu. Juga, sekadar mengucapkan salam perpisahan sementara dan rasa terimakasih pada sang mentari yang telah mau menerangi tanahnya lagi hari itu. Matahari yang masih setia memberikan cintanya dengan cahaya, juga kehangatan rasa meski kenyataannya pemuda itu masih saja sendirian. Kesendirian rasa di dalam hati yang ia perjuangkan.

Kau tau? dia adalah alumni salah satu Kampus di daerah Ciputat. Sepertinya kau tau Ciputat? Iya! masih Tangerang Selatan. Kampus yang semestinya dibanggakan karena punya brand ambassador sekelas Presiden Barack Obama, ya, meskipun memang banyak mata yang tahu bahwa Sang Presiden hanya sekadar versi KW super-nya. Hehe. Aku lebih suka menyebut perguruan tinggi itu, Kampusnya Barack Obama. Meski aku tau beliau tidak pernah menuntut ilmu di sana. Tapi sekadar informasi saja, bagi si pemuda, itu adalah kampus yang penuh histori, yang sedikit banyak memberi kesan tersendiri kepada si pemuda tentang satu fitrah dari-Nya, tentang satu wujud perasaan cinta.

Dan seakan waktu berputar begitu cepat, matahari bahkan sudah pergi, tapi sisa-sisa warna indahnya masih bisa tertangkap, membias di bola mata sesiapa saja yang memandangnya, digantikan bulan yang bukan purnama, meski lebih sering tertutup awan hitam. Di luar Mal, lumayan dingin karena cuaca berubah jadi agak berangin, jarum jam sudah menunjukkan pukul 19:30 lebih.

Si pemuda sudah bolak balik ke musholla, ke toilet, dan kembali lagi ke depan rak-rak buku komputer, self improvement, atau novel yang tersusun rapi di sebuah toko buku favorit yang ada di Mal itu, masih dalam status jomblo-menahun dan kondisi perut yang sudah merengek, minta diberi asupan. Agar kau tahu saja, seminggu sebelum dia berada di tempat itu, dia membuat janji dengan sahabat-sahabat lamanya. Sahabat yang pernah mengisi hidupnya semasa kuliah Diploma 3. Mereka adalah sekumpulan anak manusia yang terpaksa dipisahkan oleh kesibukan bernama ‘pekerjaan’. Dan malam itu mereka akan segera berjumpa lagi. Rindu mereka akan segera bertemu, menyatu.

Oh, ya. Jika kau tanya seperti apa si pemuda? Teman-temannya bilang wajahnya cukup pas untuk memikat beberapa hati wanita di luar sana. Tingginya rata-rata, seperti kebanyakan laki-laki seusianya. Usia 20an. Rambut hitamnya lebat, sedikit bergelombang kalau mulai panjang, meski keluarganya bilang sewaktu kecil rambutnya pernah lurus dan wajahnya mirip sekali dengan bayi bule, karena kulitnya yang putih, meski tidak lagi bisa dibilang putih karena dia pernah tinggal sebulan di kaki Gunung Papandayan. Mungkin kau pernah ke gunung, dan mendapati warna kulitmu berbeda sepulang darinya. Diapun sama begitu.

Jika kau tanya siapa rahasia hatinya? Ah, Sampai saat pertanyaan itu muncul, dia sedang menikmati dunianya sendirian, dia sedang membangun kembali ruang hatinya yang belum lama ini, berantakan. Masalalu memaksanya memahami bagaimana cinta dan isinya, lalu dia jadi percaya, bahwa cinta hanya masalah prinsip dan sudut pandang. Dia melihat cinta adalah tentang rasa dan cara yang sederhana. Oh iya, sebentar, Aku hampir lupa memberitahumu, kau kenal siapa dia? Coba, tebak saja? Tapi jika tak mau atau sama sekali tak tau, ya sudah, biar kuberitahu, pemuda itu tidak lain tidak bukan adalah Aku.. Hehe. Kukira kau sudah mengenalku? tapi aku senang jika harus mengulanginya. Namaku Rama Aditya. Cukup panggil aku, Rama. Hehehe. Oke, biar kulanjutkan bagaimana kisahku sewaktu itu.

Dalam lalu-lalang para pemburu buku, Aku menunggu teman-temanku, larut dalam alunan musik indah Kenny G yang telah berani masuk ke telinga sesiapa saja yang ada di tempat itu, seraya membaca penggalan sinopsis beberapa buku yang praktis memikat mataku. Aku ingin sekali membeli buku yang sudah lama kunantikan. Sebuah buku sekuel cinta remaja yang secara sadis telah menggetarkan pandanganku terhadap cinta. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan nyaman oleh seorang penulis yang pernah kujumpai di Bandung, setahun lalu. Karya gila dari seorang penulis gila, menurutku. Namun ada sedikit rasa sesal bagiku, karena belum bisa membeli buku itu, mengingat, uang gajiku baru turun dua minggu lagi.

Dan. Ah. Ditambah lagi, tempat itu telah mengingatkanku pada seorang gadis yang pernah mengisi ruang hatiku untuk beberapa waktu. Lantas saja, sebersit kenangan itu jadi turun kembali menghampiri. Memaksaku memetakan bayang-bayang masalalu yang pernah diperankan olehnya. Seorang gadis yang jatuh hati kepadaku, dengan rasa dan cara yang sederhana. Sketsa wajahnya sekilas membekas, tapi aku berusaha mengalihkannya. Sebab aku selalu khawatir, masalalu membuatku berhenti bermimpi, menghentikan mimpi-mimpiku yang sudah laju melesat ke depan, menghujam ke balik awan. Dan benar saja, di malam itu, ada satu hal yang membuatku tak perlu berlama-lama terjun dalam kenangan.

Ketika aku melangkah perlahan di deretan rak kumpulan buku fiksi. Sembari terus mengawasi terbitan baru yang kukira bisa menggoda mataku. Sekali kulihat, diam-diam dua pemuda merobek sampul plastik sebuah buku. Mereka agak panik saat aku berjalan mendekat, mengiraku seorang petugas toko buku. Aku hanya ingat, sampul buku yang mereka pegang masih asing, warnanya kuning. Aku tak peduli, karena aku memang tidak membaca semua buku di toko itu. Hehe. Dan, tiba-tiba seseorang menyapaku. Sapa itu, dari suara seorang gadis.

“Mm.. Maaf Kak, mau tanya, buku-buku komputer di sebelah mana ya?” katanya sopan.
Spontan aku menoleh. Memperjelas sumber suara. “Eh, ya, itu, di sebelah sana Mbak” kujawab, sembari mengacungkan ibu jari ke arah rak buku yang dia cari.

“Oh, itu yah? Hehe, mmm.. makasih ya Kak..” katanya lagi. Disusul senyuman yang boleh kunilai, ah, manis sekali.

“Eh iya, Mbak, sama-sama” kurespon sembari mengangguk pelan, membalas senyumnya.

Sebelum dia pergi, aku jadi bertanya-tanya sendiri. Seorang gadis mencari buku komputer? Untuk apa? Tapi jika boleh kutebak, mungkin dia sama sepertiku, dia seorang programmer junior, atau bisa jadi dia sedang mencari referensi untuk memperkaya materi Tugas Akhir atau Skripsinya. Seperti juga yang aku lakukan dulu, ketika aku berjuang mempersiapkan kelulusanku.

Punggungnya lekas menjauh. Hanya hoodie pink bertopi yang dikenakannya masih bisa kuingat walau sesaat. Mataku kembali lagi pada tumpukan buku di depanku. Tapi entah, aku jadi bingung sendiri waktu itu, perasaanku mengatakan bahwa aku harus melihat wajahnya sekali lagi. Ada daya candu dalam senyumannya, seakan memaksaku mengaguminya.

Aku mencoba memperjelas penglihatanku ke wajahnya. Kukira aku pernah melihatnya. Tapi, tak ingat di mana. Aku berusaha mengenali wajahnya dalam-dalam. Hidungnya yang mancung. Matanya yang sipit. Dan pipinya yang agak kemerahan. Juga senyum dan kedua lesung pipinya yang tersimpan di memori kepalaku.

Kukira, dia seusiaku. Tapi aku ragu, mungkin saja dia masih di usia belasan tahun. Sebangsa remaja SMA. Kutebak lagi, mungkin dia keturunan eropa dan Indonesia. Ah, kenapa juga aku jadi harus tahu tentang dia. Bukankah, aku dan dia kan hanya sebatas orang yang bertemu di toko buku? Yang bertemu karena pertanyaan yang tidak begitu penting. Yang berpisah dengan masing-masing bertukar senyuman. Kenapa juga harus perlu mengenalnya? Bukankah, kalau dia jodohku, kita pasti ketemu lagi? Loh, kenapa juga jadi bahas jodoh?! Ah, memang dasar, otak jomblo!

Tapi, tunggu! jika boleh jujur, aku ingin menceritakan tentang dia. Benar, dia memang cantik. Bahkan jika diizinkan, hati kecilku ingin sekali berteriak agar semua orang di tempat itu setuju denganku bahwa gadis itu memang cantik. Ah! Gadis macam dia, pasti banyak sekali yang menyukainya, termasuk, aku juga.

Tapi, kuakui aku lebih memilih menyembunyikan perasaan kagum itu secara pribadi. Aku hanya bisa memperhatikan gadis itu dalam diamku, mencuri-curi pandang dari balik rak. Sebuah cover buku berdesain orang tertawa di depanku seakan sedang mengejek insting jombloku. Aku jadi kesal sendiri. Malu sendiri. Entah kenapa secepat itu aku jadi pengagum rahasianya. Apa sudah waktunya aku kembali membangun cinta? Apa sudah waktunya kita saling bersua, wahai gadis yang baru saja menyapa?

Aku tidak cukup tahu, dia menyadari intaianku atau tidak. Kudapati dia berjalan menuju meja kasir, kupikir dia sudah selesai memburu buku malam itu. Dan dari balik rak yang berpuluh meter jauhnya dengan meja kasir, aku masih memperhatikannya.

to be continued! ;)

Post a Comment

2 Comments

  1. Lama tak jumpa, kudapati tulisanmu begitu elok dibaca.. Ku tunggu kelanjutan ceritamu 😊

    ReplyDelete
  2. terimakasih sudah merelakan sedikit waktunya untuk sekadar berkomentar Ukee, i appreciate it! mohon bersabar ya! :)

    ReplyDelete