Terlanjur Cinta pada Kemacetan

Senin, 18 Mei 2015, Bintaro, Tangerang Selatan

Sadar atau tidak, pagi ini saya melihat banyak teman-teman saya berteriak di Blackberry Messenger “Macet gila!” “Nggak gerak coy!” “aduuh macet, mau pulang lagi aja deh rasanyaaa” saya paham bahwa mereka adalah orang-orang yang menyalahkan macet karena mereka tidak menyangka akan menjadi korban kemacetan pagi ini. Saya pribadi sering terjebak kemacetan di jalan raya sekitar pasar yang ada di Ciputat. Saya tahu bahwa mereka sama seperti saya, penumpang angkutan umum.

Saya jadi berpikir sejenak di dalam angkot D29 yang penumpangnya sedang jarang itu. Saya teringat konsep orang-orang bahwa macet disebabkan oleh kendaraan pribadi beroda empat atau lebih(baca: mobil), mereka beropini bahwa 1 mobil bisa saja diisi 4 s/d 6 sepeda motor. Cukup masuk akal! Tapi saya pikir lagi, ketika kemacetan terjadi, banyak pengendara motor yang tidak jarang menggunakan jalur pejalan kaki(trotoar) sebagai ‘jalan raya ajaib’.

Saya jadi berandai-andai, bagaimana bila para pemilik kendaran pribadi naik angkutan umum? Saya membayangkan akan ada banyak orang-orang yang menunggu di pinggir jalan, menanti datangnya kendaraan umum, mungkin di antara mereka yang menunggu angkutan yang sama akan saling berinteraksi semisal:

Calon Penumpang1: “Mas, angkot D19 udah lewat belom ya?”
Calon Penumpang2: “Owh.. yang warnanya biru telor itu Mas? tadi sih ada, tapi udah penuh, kebetulan saya juga nunggu angkot itu.. hehe”
Calon Penumpang1: “Oh gitu ya.. Makasih ya Mas”
Calon Penumpang2: “Sip.. tenang Mas, itu angkot sekarang kan udah banyak, gausah takut ga kebagian angkot kayak dulu.. hehe”
Calon Penumpang1: “Hehe iya ya.. bener Mas.. Oiya.. btw mas mau ke mana?” dan seterusnya.

Selain cerita di atas, jalan raya akan lebih lancar dari biasanya, mulai jarang suara bising dari klakson para pemotor bila kendaraan umum berhenti sembarangan menurunkan penumpang, mulai jarang pemotor yang berkelahi(adu mulut) gegara motornya bersenggolan dengan motornya pemotor lain atau mobil dan semacamnya, dan mulai jarang para pekerja datang telat dan beralasan “Maaf telat, kena macet pak!” kepada bosnya. Sementara sang bos berkata “kebiasaan! Udah tau dari dulu macet! Kamu saya pecat!”. Sementara macet dibiarkan menjadi hal yang lumrah, biasa, tiada hari tanpa macet, nggak ada macet nggak asik, seakan macet adalah bagian dari kesempurnaan hidup.

Terbayang di kepala saya, pemerintah tak perlu bersusah payah membangun tangga penyebrangan, cukup dengan banyaknya zebra cross maka sesiapapun akan menggunakan fungsinya dengan baik, bukan sebagai garis start para pemotor di perempatan jalan raya(saya pernah melakukannya) ketika lampu lalu lintas sedang berwarna merah, pun mungkin saja juga mampu mengurangi polusi dari emisi gas buang kendaraan (pribadi). Tak ada lagi korban ‘penurunan-sembarangan’ oleh oknum-oknum angkutan umum yang tidak ‘mau’ bertanggungjawab.

Sejujurnya, di kendaraan umum saya banyak mendapati pelajaran berharga, seperti misalnya belajar menunggu(bersabar) ketika si sopir menunggu penumpangnya di ujung gang (ngetem), di dalam angkutan umum saya bisa menikmati perjalanan dengan sekadar membaca buku atau mengetik beberapa artikel; bagi saya ini adalah menunggu yang bermanfaat.

Mungkin hal lainnya, bila saja orang mau menggunakan kendaraan umum tak ada lagi yang namanya ngetem atau penumpukan kendaraan di sisi jalan yang tidak jarang menyebabkan kemacetan itu sendiri. Tak ada lagi orang-orang yang nekat melawan arus demi mencapai jalan pintas guna menghindari kemacetan yang sebetulnya malah melahirkan kemacetan lainnya.
Adakah yang menyukai macet? Mungkin sebagian ada(karena sudah biasa). Lalu apakah kesukaan akan kemacetan ini bisa diubah? Jawaban saya, semuanya kembali kepada pribadi masing-masing. Perubahan selalu datang dari diri sendiri, bukan dari Pemerintah.

Bukankah Dia, takkan merubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya?
Tapi ah sudahlah, tulisan ini mungkin hanya imajinasi semata, tidak lebih dari apapun.

Tapi cobalah sesekali tinggalkan kendaraan pribadi di rumah, dan nikmati sensasi naik kendaraan umum. Dan tetanggamu tentu akan bertanya “kok nggak bawa motor?” dan kamu bisa mengatakan jawabanmu sendiri padanya.

Saya sendiri belum punya kendaraan pribadi, tapi saya pernah bermacet-macet ria dengan motor yang saya pinjam dari kakak atau teman saya. Namun sampai saat tulisan ini diketik, saya masih setia naik kendaraan umum(angkot), ketika berangkat ke kantor dan ditanya dengan hal yang sama oleh tetangga, saya selalu menjawab enteng “motor? ada, masih di leasing” dengan nada bercanda.

Di kendaraan umum saya bisa tetap berkarya dengan menulis, atau sekadar membaca buku kesukaan saya. Saya juga lebih menikmati perjalanan dengan merasa aman dan nyaman.
Tapi ah sudahlah, sekali lagi tulisan ini hanya imajinasi semata, tidak lebih dari apapun.

Saya sudah terlanjur cinta pada kemacetan.

Post a Comment

2 Comments

  1. "Saya juga lebih menikmati perjalanan dengan merasa aman dan nyaman."
    Setuju, Kemacetan tak selamanya merugikan. Adakalanya keuntungan muncul di tengah kemacetan panjang, misalnya siapa tau ketemu jodoh diantara kemacetan hahahaha
    Nice artikel, tapi masih kurang greget yah *peace :D semoga kedepannya bisa lebih greget
    Asah terus bakat mu nak, lewat karya cantik mu!
    Ditunggu karya selanjutnya...

    ReplyDelete
  2. hahaha.. terimakasih untuk komentar luar biasanya Mas/Mbak No Name nya :D

    ReplyDelete