Hai Sayang #8

Hai Sayang.. selamat pagi menjelang siang..
Masih baik-baik saja kan di sana? Aamiin..

Dua jam lalu aku masih berada di kendaraan umum..
Dalam hiruk pikuk penyanggah kota di pagi hari..
Sesekali aku melihat keluar jendela, menyaksikan kendaraan yang berlalu-lalang atau para pedagang yang mulai sibuk menjajakan dagangannya,
dan tidak lupa, aku melihat ke langit yang rintiknya sempat membasahiku walau sedikit, tapi tak apa, basahnya masih biasa..

Aku sedang tidak bicara hujan sekarang,
Aku ingin bertanya satu kalimat padamu, pernahkah kamu melihat langit yang begitu luas dengan hamparan awan lalu pandanganmu terusik sebuah bangunan tinggi seperti gedung atau menara? Aku yakin kamu pernah..

Akupun demikian, tapi aku tak marah karena gedung atau menara itu menghalangiku menatap langit, bahkan aku penasaran..
Ya, bisa dibilang rasa penasaran itu ada sejak aku kecil saat melihat bangunan-bangunan yang menjulang itu.

Aku ingin ke sana, berada di dalamnya..
Entah kenapa sejak saat itu aku jadi punya cita-cita, aku ingin berada di tempat yang tinggi, seperti menara masjid, mercusuar, bangunan pencakar langit, ataupun pegunungan, yang kadang membuat siapapun menangis ketika berada di puncaknya.

Cita-cita yang aneh katamu? Ah tidak juga.
bukankah dari atas sana kita bisa melihat keindahan langit dan bumi yang bersatu padu? dimana kadang juga kita bisa sama tinggi dengan awan atau bahkan lebih di atasnya..

Aku pernah berada di pundak pegunungan, dan benar saja kata orang, kalau sudah sekali ke gunung, pasti ketagihan.
Lalu, kapan kamu dan aku mendaki bersama? semoga segera ya.. aamiin..

Kamu sedang di mana sekarang? Di dalam rumah? Di tanah lapang? atau di ujung menara? Tolong ajak aku ke ujung menara itu, aku ingin menyapa langit lebih dekat, sambil terus mengungkapkan syukurku dan mimpiku pada-Nya.. bersamamu..

Jika mimpiku adalah melihat langit dari ujung menara, kemanakah kubawa lagi mimpiku lainnya berjalan? sementara aku sudah di ujung perjalanan? Jika berusaha menapak lagi, bisa saja aku terpeleset dan lalu terjatuh kan?
Aku akan diam saja di ujung menara itu, sambil kulepaskan mimpi-mimpiku, membiarkan mereka terbang, membiarkan mereka yang sampai ke langit..

Mungkin seperti itulah, tanpa menara kamu tak bisa dengan mudah ada di ketinggian..
Tanpa orang-orang yang kamu cintai di sekitarmu, mungkin kamu bukan apa-apa, termasuk aku atau siapapun, terlebih lagi tanpa ridho orang tua kita, apa jadinya ya?

Maka teruslah bermimpi, sembari mendaki gunung atau menaiki tangga ke ujung menara, siapa yang tahu mimpi itu akan segera terwujud? satu jawabannya, hanya Dia Yang Maha Mengetahui, Yang menciptakanmu untuk bermimpi.

Maka teruslah bermimpi, lebih tinggi dari menara, lebih tinggi dari bangunan tertinggi di dunia ini.
Maka teruslah bermimpi, sandarkan mimpi itu hanya pada-Nya, hanya Dia yang menghendaki terwujud atau tidaknya mimpimu.

Sekali lagi, seorang penulis pernah berkata:
"Jangan tanyakan seberapa besar mimpi kita, tapi tanyakan seberapa besar kita untuk mimpi itu"
Kamu paham kan sayang? jangan berpura-pura bingung ya.. hahaha

Hai Sayang..
jika kamu mau bermimpi lagi, Aku mau jadi menaramu,
lalu bermimpilah terus, tanpa putus..
Aku serius.. ;)

Post a Comment

0 Comments