Hai Sayang #6

Hai Sayang..
Aku baru saja selesai makan siang. Aku harap kamu pun sudah selesai mencuci piring makanmu. Aku tidak mampir di cafetaria ataupun kami lima. Seperti biasa, aku makan di meja kerjaku.

Hari ini aku telat makan siang. Hampir jam 2 siang. Di luar jam istirahat. Kenapa makananku tak kunjung diantar? Ternyata si pengantar berkeliling mencari makanan yang aku, managerku, dan karyawan lain pesan.

Ada lebih dari 5 orang hadir di sini, memesan pada satu orang yang sama, jika kamu jadi dia, apakah kamu akan dengan senang hati melakukannya? Menerjang terik siang yang membara? Ku yakin kamu akan bilang iya karena kamu dan dia adalah orang hebat.

Sebut saja, Mba siti namanya. Aku tak suka menyebutnya pembantu, aku lebih suka menyebutnya tukang masak yang baik hati. Mba siti sudah lumayan tua. Keriputnya tampak, ubannya pun tak sedikit. Boleh kutebak, mungkin umurnya kepala 5. Aku bingung dengan nama siti yang familiar melekat di diri seseorang yang banyak membantu. Kamu juga bingung kan?

Dia adalah orang yang paling dulu tiba di kantor dan pulang paling akhir, demi keamanan kantor, demi kebersihan kantor, dan demi konsentrasi karyawan dalam bekerja.

Dia minta maaf padaku, karena makananku telat datang. Aku memang lapar tadi, tapi jika kamu membayangkannya menjadi dia, kamu akan menyalahkan dirimu sendiri. Aku seringkali berterimakasih padanya hanya setelah makananku sampai. Aku lupa berterimakasih padanya ketika meja kerjaku bersih dari debu, yang membuatku nyaman bekerja. Jangan tahan aku sayang, biarkan aku ingat-ingat lagi segala yang Allah berikan melalui dirinya.

Kamu tahu sayang? Mba siti adalah orang yang mengantar-jemput anaknya yang bekerja naik turun kereta ke arah Jakarta. Betapa sayangnya ia pada anak gadisnya itu. Kamu tahu sayang? Dia yang mau memikirkan masalah anaknya, sekaligus yang menghidupi anaknya dengan berjualan makanan yang ia buat sendiri, yang dijajakannya di sekitar Gelora Bung Karno ketika weekend tiba. Suaminya di mana? Sekalipun aku tak pernah mendengar ia menceritakan pendamping hidupnya.

Aku tak pernah melihat Mba Siti murung. Hampir setiap hari dia tertawa. Ketika kamu mendengar tawanya, kamu pasti ikut tersenyum. Hidup ini sederhana ya sayang?

Bicara tentangnya, Aku jadi rindu ibuku. Jangan kita bahas ibuku, aku pasti menangis. Kamu pasti paham kan alasan kenapa aku menangis? Aku takkan sanggup membayangkan wajah mereka yang berseri-seri menghidupiku. Mari kita berdoa dari sini, untuk ibu kita, untuk orang tua kita, untuk bidadari pertama kita. Yakin bahwa Allah akan selalu menjaga (orang-orang yang dengan keringat dan cintanya menjaga kita tanpa butuh balas budi). Aamiin..

Biarkan aku bernyanyi sejenak ya..
Ibuku sayang masih terus berjalan..
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah..
Seperti udara, kasih yang engkau berikan,
tak mampu ku membalas, ibu..

Fix, aku nangis nih.

Hai sayang..
Kamu tahu salah satu caranya mensyukuri nikmat-Nya?
Jaga ibumu dengan cinta dan doamu.. :’)

Post a Comment

0 Comments